Galeri

Neng, kaos kakinya dilepas aja.. Nanti basah.. -_-

 

12339672_1662425374041315_3122146540120901029_o

Bismillah..

Seperti biasa. Beberapa Minggu ini Bandung diguyur hujan. Tidak terkecuali hari ini. Kamis, 29 November 2012. Ya, hari ini hari keempat mahasiswa-mahasiswi Poltekpos melaksanakan Ujian Tengah Semester. Ujian hari ini tidak terlalu membuat kening berkerut. Alhasil, tidak sampai 30 menit, anak-anak kelas sudah pada beranjak dari tempat duduknya. Saya pun menjalankan rutinitas seperti hari-hari sebelumnya. Ketika keluar kelas, langsung menuju Masjid Nurul Ilmi, Masjid Kampus tercinta. Tapi hari ini ada yang berbeda. Saya harus menunggu waktu hampir satu jam untuk mendengarkan lantunan Adzan shalat Ashar.

Okay.. Kali in bukan soal UTS nya ataupun suara Adzan yang akan saya bahas, tapi kali ini saya akan berbagi pengalaman yang mungkin juga hal ini pernah sahabat alami dan rasakan. 🙂

Tersentak kaget ketika mendengar teguran dari penjaga masjid Kampus sore ini. Teguran apa? Baik, saya ceritakan kronologinya..

Di Masjid Kampus, ada penjaga yang setia menjaga kebersihan di lingkungan masjid. Dan saya menyebutnya sebagai pahlawan kebersihan. Ketika hujan deras, seperti hari ini, sekitar teras masjid selalu basah. Tidak terkecuali jalan menuju tempat wudhu’ akhwat. Basah. Banjir. Angin membawa air sampai ke teras. Sore ini, seperti biasanya sang pahlawan kebersihan tidak akan membiarkan teras-teras masjid dalam keadaan kotor dan basah. Dengan sigap beliau membersihkan lantai-lantai tersebut. Karena keterbatasan kemampuan beliau. Dan kapasitas lantai masjid yang lumayan besar. Ketika adzan shalat Ashar berkumandang, lantai menuju tempat wudhu’ belum terjamah oleh tangan dan kaki super cekatan beliau. Alhasil timbul percakapan berikut:

Pahlawan : “Jangan lewat situ neng, basah..”
Me : “Oh iya, Pak..”
(celingak-celinguk mencari lantai yang kering) timbul pemikiran (apa si bapak nyuruh saya terbang ya, g ada lantai yang kering ini? -_-)
Pahlawan : “Neng, kaos kakinya dilepas aja.. Nanti basah..”
Me : #glek (speechless)

Ketika dihadapkan dalam kondisi seperti itu, beberapa perenungan dadakan yang muncul..

  • Apakah ia rasa cinta kepada Allah dikalahkan dengan rasa takut jika kaos kaki basah?
  • Apakah mungkin rasa cinta kepada Allah dikalahkan sama rasa malu jika dibilang bodoh?
  • Apakah.. apakah.. dan apakah..

Oh nooo, begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Lihat saja diri kita sendiri. Dari atas sampai bawah. Semuanya bentuk rasa cinta Allah kepada kita, hamba-Nya.

sumber foto: http://kumpulanceritacopas.blogspot.com/2012/08/menutup-aurat-sesuai-syariat-akhwat.html

Bukankah sudah jelas firman Allah dalam Al-Quran surat an-Nur ayat 31:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS an-Nur [24]: 31).

Frasa mâ zhahara minhâ (yang biasa tampak padanya) mengandung pengertian wajah dan kedua telapak tangan. Hal ini dapat dipahami dari beberapa hadis Rasulullah saw., di antaranya: Pertama, hadis penuturan ‘Aisyah r.a. yang menyatakan (yang artinya):

Suatu ketika datanglah anak perempuan dari saudaraku seibu dari ayah ‘Abdullah bin Thufail dengan berhias. Ia mengunjungiku, tetapi tiba-tiba Rasulullah saw. masuk seraya membuang mukanya. Aku pun berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ia adalah anak perempuan saudaraku dan masih perawan tanggung.” Beliau kemudian bersabda, “Apabila seorang wanita telah balig, ia tidak boleh menampakkan anggota badannya kecuali wajahnya dan ini.” Ia berkata demikian sambil menggenggam pergelangan tangannya sendiri dan dibiarkannya genggaman telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya). (HR Ath-Thabari).

Kedua, juga hadis penuturan ‘Aisyah r.a. yang menyakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«قَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ»

Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya). (HR Abu Dawud).

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa yang biasa tampak adalah muka dan kedua telapak tangan, sebagaimana dijelaskan pula oleh para ulama, bahwa yang dimaksud adalah wajah dan telapak tangan (Lihat: Tafsîr ash-Shabuni, Tafsîr Ibn Katsîr). Ath-Thabari menyatakan, “Pendapat yang paling kuat dalam masalah itu adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa tampak adalah muka dan telapak tangan.” (Tafsîr ath-Thabari).

Jelaslah bahwa seorang Muslimah wajib untuk menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Artinya, selain wajah dan telapak tangan tidak boleh terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram-nya.

Semoga bermanfaat 

Kamar kost, 29 November 2012
Kost 213, Sarijadi-Bandung

-Lavina Haura’-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s