Galeri

Gelombang Keadilan Itu Membesar!

13666065581225242418

“Kan melangkah kaki dengan pasti, menerobos segala onak duri

Generasi baru yang telah dinanti, tak takut dicaci tak gentar mati

Bagai gelombang terus menerjang, tuk tumbangkan segala kezhaliman

Dengan tulus ikhlas untuk keadilan, hingga pertiwi gapai sejahtera

Takkan surut walau selangkah, takkan henti walau sejenak

Cita kami hidup mulia, atau syahid mendapat surga”

-Shoutul Harokah, Gelombang Keadilan-

Tidak terdengar familiar? Tentu saja. Rasanya hanya internal PKS yang mengenal lagu ini. Lagu islami yang senantiasa menggaung di setiap momen aksi yang dilakukan partai ini sendiri. Lagu yang dengan sukses menyalakan obor semangat yang tersimpan di hati para kadernya. Barangkali simpatisan yang tau lagu ini juga, macam saya.

Ketika akhirnya saya mendengar lagu ini kembali, setelah sekian lama, saya jadi berpikir. Lirik “Generasi baru yang telah dinanti, tak takut dicaci tak gentar mati” rupanya telah menjadi nyata, ya. Dengan begitu banyak prasangka yang mengundang cacian, makian, hinaan, lirik ini menjadi nyata. Terlihat betapa tetap santunnya setiap akun twitter PKS menghadapi serangan mensyen bernada tidak ramah.

Sakitnya mata ini melihat bahasa-bahasa yang terketik di mana-mana dengan maksud menyudutkan, memojokkan. Ah, ternyata malah jadi pemicu yang luar biasa.

Saya jadi teringat sebuah kisah motivasi mengenai seekor katak yang mencoba memenangkan perlombaan memanjat menara yang tinggi. Dengan penonton yg pesimis dan terus meneriakkan prasangka negatif bahwa tidak akan ada yang berhasil, katak ini menjadi satu-satunya yang berhasil memenangkan perlombaan, disaat semua lawannya berjatuhan dan menyerah. Akhirnya si katak menang, dan dengan penasaran salah seorang peserta yang gugur menanyakan bagaimana si katak sanggup mencapai puncak menara. Dan rupanya si katak pemenang ini tuli!

Luar biasa melihat bagaimana kader-kader PKS telah mampu menjadi si katak pemenang tanpa perlu tuli dan buta!

Saya jadi sedikit bertanya-tanya, apakah ada yang mempertanyakan maksud keberadaan akun saya. Pasti ada. Kok memuji terus. Kok ndak bahas dari sisi politik. Kok gini-gitu sana-sini. Sederhana, sebenarnya. Jika partai lain memiliki media massa untuk mempertontonkan pahala yang dibuat tokohnya, maka inilah dari sedikit yang bisa saya lakukan. Revealing. Membuka tirai bagi orang luar untuk menengok ke dalam. Dengan memperlihatkan dan menuliskan apa yang hati saya katakan dan alami dengan orang-orang di dalam PKS sendiri.

Akan sangat jarang, jika tidak bisa dibilang langka, menemukan pemberitaan kader PKS menunjukkan perbuatan baiknya dengan sengaja. Karena bagi mereka, dalam Islam, ketika tangan kanan memberi, tangan kiri pun jangan sampai melihat. Aneh? Ya, aneh. Kader PKS memang kumpulan orang aneh.

Ketika nanti media massa hanya memberitakan yang sesuai dengan kepentingan pemiliknya dan memojokkan satu pihak dengan terus berusaha eksplor berita negatif, orang tentu berpikir “Ah, pihak ini kok ndak pernah diberitakan baik”. Gimana dong? Bukan sini sih yang punya media massa-nya. 😀

Saya rasa, bagi saya yang hanya seorang anak kader PKS, makna keberadaan PKS bagi saya hampir sama dengan para kadernya. Bahwa PKS hanya nama. Islam yang sebenarnya berusaha dibawa. Membawa Islam dengan selamat sampai ke halte berikut melalui jalan bernama PKS. Dan jalan itu tidak lurus apalagi mulus. Panjang, berkelok, lagi banyak godaan. Tetapi juga mampu menjadi indah bagi siapa saja yang bersedia mengganti kacamata pandangnya di toko kacamata yang sesungguhnya bertebaran di sepanjang jalan tersebut. Tetapi melewatinya tidak sendirian. Karena membawa Islam dengan selamat membutuhkan tangan bantuan, yang disebut saudara. Dan di jalan bernama PKS, ada banyak tangan saudara yang membantu membawakan paket ini agar selamat sampai akhir tujuan.

Saya memang tidak bakat menulis yang to the point, ya..

Ketika saya mempertanyakan kepada orangtua bahwa kenapa dakwah harus di PKS, saat itu dijawab. Namun rupanya memang hati ini saat itu sedang bebal. Dan saya merasa, semoga benar, bahwa inilah alasan para kader untuk terus melalui jalan PKS meskipun banyak duri, jebakan, bahkan pagar berkawat yang melintang di tengah jalan.

Karena dakwah tidak bisa berjalan sendirian. Ia tak bisa menjadi hanya setetes air untuk lautan yang luas. Maka jawabannya, bergabunglah bersama gelombang. Gelombang yang membawa kebaikan.

Seseorang pernah menyampaikan kepada saya, bahwa tidak di PKS pun tidak mengapa. Sungguh. Tetapi bergabunglah dengan gelombang lain yang ada. Jangan sendirian. Karena yang sendirian akan habis tenggelam. Sekuat apapun mencoba bergerak, tetap akan habis dimakan. Memilih diam? Maka nikmatilah kesendirian itu, hingga suatu kali gelombang kehancuran menggapai tetes airmu, tanpa dirimu mampu melawan.

—————————

Bergeraklah. Jika bukan untuk sekelilingmu, maka lakukan untuk anak-cucu mu. Tidak pernah ada penyesalan di depan. Kau lakukan pun, ia tetap akan tersisa di belakang.

-Anak Kader PKS-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s