Galeri

Sayang Mama dan Papa karena Allah :-)

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Mama: “Kalo cepet, ado seneng dan sedinyo. Kalo lambat jugo ado seneng dan sedihnyo.”
Me: “Apo ma seneng dan sedihnyo?”
Mama: “Kalo cepet, yo seneng papa masih biso hadir. Sedihnyo yo kagek perhatian adek pasti berkurang ke mama papa karena sudah punyo keluargo dewek. Kalo ado apo-apo cak sekarang kan lemak, tanpa pertimbangan apapun, adek langsung cepet balek ke Palembang.”
Me: “Hm..”

Kutatap matanya. Rasanya ingin sekali meneteskan air mata di hadapannya. Tapi, tidak boleeeh. Saya harus terlihat tegar. Cukup berikan beliau senyuman dan pelukan hangat untuk menghilangkan kekhawatirannya. Meski saya yakin, hal tersebut tak akan dengan mudahnya menghilangkan perasaan itu.

Cuplikan percakapan dengan mama di ruang tunggu ICU Jantung lima hari yang lalu memang singkat, namun efeknya luar biasa. Sampai sekarangpun saya masih kepikiran, entah sampai kapan. Pembahasan mengenai masa depanku, memang menarik untuk didiskusikan tapi tidak asik untuk sekedar dijalankan namun harus dirasakan dengan ini (nunjuk hati).

Alhamdulillah wa syukurilah. Keluargaku benar-benar anugerah terindah dari Allah Swt. Mempunyai papa yang sangat menyayangi keluarganya. Mama yang sangat bijak dan super tangguh luar biasa untuk ukuran seorang perempuan. Kakak-kakak yang sangat perhatian terhadap keluarga dan sangat menyayangi adiknya walaupun sudah mempunyai keluarga masing-masing.

Dua minggu ini Abdullah’s Family kembali diuji. Papa, dinyatakan oleh Dokter terkena serangan jantung. Dari RSUD Kayuagung, langsung dirujuk ke IGD Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang. Perjalanan Kayuagung – Palembang memakan waktu dua jam, tanpa macet. Mama didampingi keluarga besar mengantarkan papa sampai ke RSMH Palembang yang terletak di Jl. Jenderal Sudirman. Dua hari papa di opname, lalu dpindah ke ruang ICU jantung. Dari gedung IGD ke gedung BHC tersebut jaraknya kurang lebih tiga kilometer. Di hari kedua alhamdulillah mama masih didampingi saudara yang bekerja di bagian kesehatan untuk mengurus semua administrasinya. Karena opname kali ini tidak menggunakan ASKES lagi, tapi sudah beralih ke BPJS.

Di hari ketiga, mama mulai sendiri. Menunggu di ruang tunggu sendiri, tak ada tempat untuk beliau curhat. Kecuali dengan menelepon anak-anaknya atau saya dan kakak-kakak sengaja menelepon untuk menanyakan kabar papa dan dengan setia mendengarkan cerita mama. Ya.. hanya itu yang bisa kami lakukan saat itu. Menjadi penghibur dan motivator dari jarak jauh agar mama tetap tegar, kuat, dan sehat selalu.

Di hari keempat, kakak menelepon saya. Meminta saya untuk pulang. Mendampingi mama di rumah sakit. Dan pada hari itu juga saya mengajukan resign ke atasan saya dan HR di kantor. Setelah ditanya penyebab dan alasannya, alhamdulillah saya diizinkan untuk resign. Namun harus tetap masuk sampai 30 hari ke depan. Ya Rabb, keluarga membutuhkan saya. Namun saya juga harus menunaikan hak kantor terhadap diri saya. Beraaat sebenernya. Meninggalkan ruangan itu, gedung itu, dan tentunya semua penghuninya yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Tapi berharap ini keputusan saya dan keluarga yang terbaik. Keputusan yang didapat dengan niat yang baik, semoga berakhirnya dengan baik pula. Aamiin.

Di hari kelima, saya pesen tiket untuk pulang ke Palembang pada hari itu juga. Semuanya serba dadakan, tapi alhamdulillah Allah Swt. memberi kemudahan. Pukul 18.50 WIB saya tiba di Bandara SMB II. Dijemput oleh kakak saya yang ketiga. Karena jarak antara rumah dan rumah sakit yang terbilang jauh dan ketiga kakak saya mempunyai baby, menyebabkan mereka tidak bisa fulltime di rumah sakit. Beda halnya dengan saya. Sebagai satu-satunya anak mama yang belum berkeluarga, saya yang paling banyak waktu untuk mendampingi mama.

Malam ini tepat 11 hari papa di opname. Dua hari di IGD, sembilan hari di ICU. Dan malam pertama papa boleh pindah ke kamar. Bye ICU..

Dan hari ini hari ke-8 saya di RSMH. Itu artinya ini malam terakhir saya menemani mama menjaga papa di rumah sakit. Karena saya harus balik ke perantauan besok sore untuk segera menyelesaikan amanah-amanah saya di kota seberang sana.

Lekas sembuh papa. Semoga cepat pulang ke  r u m a h tanpa kata s a k i t alias rumah sakit. Cucu-cucumu menunggu di rumah. Walaupun saya ndak ada disana nanti, tapi setidaknya mendengar papa pulang ke rumah dengan sehat walafiat itu sudah cukup bagi saya.

Mama, yang kuat ya. Sehat selalu. 🙂

Ya Allah yang Maha Pemurah Maha Bijaksana, terima kasih atas semua ujian yang Kau beri kepada keluargaku. Baik itu ujian nikmat maupun cobaan. Begitu banyak hikmahnya..

Ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang, kutitip dua malaikatku ini. Jaga mereka ya Rabb. Saya menyayangi mama papa karena saya mencintai-Mu ya Allah..

 

Kamar 06, 20 September 2014
Ruang Perawatan Otak dan Jantung, RSMH Palembang
-Lavina Haura’-

Iklan

2 comments on “Sayang Mama dan Papa karena Allah :-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s