LIQO bukan Pilihan namun Kebutuhan..

Bismillah..
Di postingan sebelumnya, saya pernah berjanji mau ngeposting all about liqo’ / ngaji / melingkar / tarbiyah. Tadinya mau nulis sendiri. Tapi sepertinya tulisan saya ga akan lebih keren dari catatan mba Deti Febrina plus kultwitnya mas Afwan Riyadi. So, saya repost saja ya catatan beliau-beliau ini. ^^

C360_2016-02-03-16-36-29-706

👀 Check this out 👀

Ramadhan kali itu tidak ada program intensif siswa yang tersedia dalam waktu lebih panjang. Maka saya minta seorang akhwat mengajar tahsin Al Qur’an dan taklim untuk Tsabita, Tsaqifa, dan Ukasyah. Akhwat itu dulu mutarobbi saya.

Jelang Ramadhan berakhir – apalagi mau hari raya – selayaknya saya menyiapkan honor mengajar. Setelah proses tolak menolak dan setengah paksa memaksa yang cukup komik (persis anak TK) akhirnya amplop honor itu susah payah masuk saku jaketnya.

Satu saja kalimatnya yang sempat membuat saya tertegun, “Umi dulu berbulan-bulan mengajar kami (liqo) tanpa dibayar, masa saya ngajar adik-adik sebentar saja minta dibayar …”.

Tetiba ingat potongan fragmen itu saat menyimak kultwit ngomel Bro Afwan Riyadi (2/11/2014). Dichirp oleh M. Luthfie Arie lalu dirapikan Achmad Rochfii Chaniago, berikut kultwit yang kami juduli saja: “Liqo Itu Kebutuhan Kita

Enjoy.

🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦

LIQO ITU KEBUTUHAN KITA
kultwit oleh @af1_ (Afwan Riyadi)

Alhamdulillah kelompok halaqah nambah terus .. Walau sayang, yg lama anggotanya angot2an datangnya.

Saya ingin katakan bagi ikhwan akhwat yg datang liqo suka angot2an : Harusnya antum bersyukur; ada orang yg bersedia berbagi ilmu dgn antum

Sadarkah antum, murabbi/murabbiyah itu selalu memberikan waktunya untuk antum? Menyisihkan waktu bagi keluarganya?

Lalu dengan enteng, antum yg gak pernah membayarnya untuk mengajari antum itu berkata : “afwan bang, ane gak bisa datang liqo.”

Itu masih mendingan .. Malah lebih sering yg tanpa kabar berita. Hilang begitu saja.

Lalu sering banget terjadi; kemudian orang2 yg jarang datang liqo ini, bicara yang tidak2 terhadap murabbinya.

“MR ane gak peka. Masak ane gak pernah dateng liqo dibiarin aja, bukannya di telpon kek. Di SMS kek. Enggak diam diam aja. Mana ukhuwahnya?”

Lalu mutung tanpa sebab, lalu bicara yg tidak2 tentang jama’ah .. Ini semua pangkalnya 1 : malas datang liqo dgn semua alasan2 yg dibuat2

Ada yg bilang males liqo karena murabbinya gak punya kafa’ah syariah. Saya ingatkan : ini liqo, bukan kelas di Ma’had.

Kalau mau faham syariah, ya ikut kuliah di Ma’had. belajarnya Intensif. Bayar. Masa mau jadi ahli fiqih cuma ikut program gratis pekanan?

Halaqah itu bukan itu. Disini yg dibina adalah fikrah & amal sekaligus. Membersihkan jiwa dari Syirik, mengajarkan hikmah2 yg ada dimana2.

Materi2 dasarnya adalah hal2 yg wajib setiap Muslim memahami & menjalankannya : mengenal Allah, mengenal Rasul, mengenal Islam dsb

Kalau datangnya bolong2; ana kuatir pemahaman yg lengkap ttg apa itu Islam menjadi kurang sempurna.

Sadarkah kita, murabbi/murabbiyah itu terkadang juga berat memberikan waktunya sekali sepekan untuk mendidik kita?

Sementara mereka juga sudah memberikan waktunya sekali sepekan untuk datang ke halaqah-nya sebagai mutarabbi ..

Sementara mereka jg punya banyak tuntutan dakwah dimana-mana. Membina ini itu, mendidik anak istrinya, mengurus keluarganya, mencari nafkah

Dia harus sering muncul di masyarakatnya. Aktif di lingkungannya, aktif di tempat kerjanya, aktif di DPRa & DPC-nya.

Dan kita yg enteng angot2an datang ini mencibirnya : “MR ane ukhuwahnya kurang.. Ane jarang masuk gak ditengokin.”

Kalo ada ikhwan akhwat yg begini; ane pengen banget kasih cermin guede ke mukanya.

Lha elu, apa ngasih ongkos buat MR lu buat nengokin? Apa ngasih pulsa buat nelpon elu? Apa pernah elu bayar dia tiap liqo?

Kita-nya sendiri yg gak datang tanpa sebab, gak bilang2, wa la salam wa la kalam .. Siapa yg sebenarnya butuh halaqah itu? Kita atau MR?

Ada yg bilang : “Maap bang ane jarang datang liqo. Ane lagi sibuk..” Dia kira MR-nya pengangguran apa?? Ane bilang ini penghinaan.

Ada yg bilang : “Maap bang ane jarang datang liqo, lagi ngurusin anak.” Dia kira MR-nya gak sayang anak apa? Dia kan juga punya anak.

Tapi dia bela2in meninggalkan anak2nya sesaat demi menyampaikan dakwah kepada kita2 ini .. Kok ya gak bersyukur ..

Saya ceritakan beberapa pengalaman kawan2 saya tentan liqo..

Ada ummahat di Kaltim, liqonya beda kabupaten karena tempatnya belum ada. Pergi liqo naik kapal bawa 4 anak2nya yg masih kecil2.

Ada ikhwan di kota kecil di Sumbar, liqo harus ke Padang yg jaraknya 100 km. Dia tiap pekan nginap di Padang cuma untuk liqo.

Ada ustadz di Pekanbaru, diminta membuka dakwah di suatu kabupaten. Gak punya ongkos, dia tiap pekan pergi numpang truk buat ngisi liqo.

Ada temen liqo ane sendiri, dulu membina di Serang skrg lagi kuliah di Depok. Binaan2nya rela naik motor kerumahnya buat liqo sepekan sekali.

Mereka gak mau dipindahin. Daripada bubar ditantang : ya sudah kalo maunya liqo sama ane; datang ente ke Ciputat. Eh beneran datang terus.

Orang2 macam begini ini, yg setiap langkahnya menuntut ilmu selalu diiringi doa oleh makhluk2 Allah ..

Eeeh kita2 datang liqo males2an. Trus mengeluh : “kok ummat Islam ini gak menang2 ya?” Ya gimana mau menang? Yg sudah sadar aja males2an.

Dateng liqo males2an; trus bilang : Ane gak dapet apa2 di liqoan. Ya gimana mau dapet kalo datang aja bolong2??

Ane gak marah .. Cuman bahasanya ane tegasin biar yg dateng liqo males2an bisa sadar.

Dulu ane pernah “debat” sama mantan ikhwah. Dia banyak menyerang pandangan2 ikhwan ttg suatu masalah. Ternyata 1 masalahnya : dia suka bolos.

Ya kalo suka bolos, lalu jadi nggak paham manhaj-nya, lalu menyalahkan manhaj itu .. Itu sih menurut ane jahil murakkab .. kebodohan kuadrat

Menyalahkan manhaj –> itu jahil.
Karena gak paham –> itu jahil.
Gak paham karena bolos melulu –> itu jahil.

Ada mantan ikhwan yg bilang “Ane mau liqo kalo murabbi-nya kayak DR.Hidayat Nur Wahid” .. emang lu siapee? (^o^)

DR.Hidayat Nur Wahid cuma 1. DR.Surahman cuma 1. Ust. Rahmat Abdullah cuma 1 & sudah wafat. Kalau hanya mereka yg membina, mau sekuat apa?

Dia ternyata liqo selama itu masih gak paham juga, bahwa liqo itu bukan semata thalabul’ilmi. Liqo itu ta’akhy; persaudaraan,

Ust.Rahmat Abdullah (alm) dulu pernah cerita; di Medan th 90-an, ada tukang becak yg jadi murabbi bagi seorang doktor.

So what? Apakah seorang doktor harus selalu lebih mulia dibanding tukang becak? Apakah dia tak bisa belajar apapun dari tukang becak?

Udah dulu yak..
🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦

Sumber: Webnya mba Deti Febrina

Semoga bermanfaat 🙂

Lavina’s Green Room, 23 Ramadhan 1436 H
Home Sweet Home, Kayuagung
-Lavina Haura’-

Iklan

5 comments on “LIQO bukan Pilihan namun Kebutuhan..

  1. Saya sempat ngaji online antar benua, untuk pertemuan offline-nya kl waktunya pas cuma bisa 4 kali setahun. Dan itu jamak dilakukan temen2 yg lg diluar negeri, mereka yg masih rindu melingkar 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s